“Belum Mandi”

Sebenernya ini bukan cerpen bukan juga novel, bukan biografi atau biografi, bukan legenda bukan juga dongeng. Tapi yang pasti ini adalah kisah nyata yang terjadi pada tanggal 29-30 Desember 2012. Dan aku menjudulinya “Dia Yang Cantik Yang Belum Mandi”. Hahahaa……

Setelah solat subuh aku harus mempersiapkan segalanya, dari baju, celana dalam, pelembab, sandal, sikat gigi, pasta gigi, sabun mandi, pokonya semua hal yang diperlukan aku masukan ke dalam tas. Sebelum aku berangkat ke Cianjur aku harus

menjemput dahulu salah seorang wanita bernama Amalia (panggil saja Amel). Dia adalah wanita yang paling kukagumi sekaligus wanita paling cantik di Dunia.

Sekitar pukul 07.30 aku sudah berada depan rumahnya. “Assalamu’alaikum”, teriak ku depan rumahnya.

Tiba-tiba saja Dia keluar dari pinggir rumahnya memakai kerudung warna oranye, baju oranye, celana jeans biru. Terdiam ku beberapa saat memandang wajahnya dan sontak saja dari dalam hatiku aku berkata “Subhanallah manisnya wanita ini”.

“Udah lama?”, tanyanya.

“Baru banget nyampe.” Sahutku

“Masuk a fadhlan!” sahutnya lagi sambil tersenyum manis.

Kemudian aku masuk kerumahnya, duduk di ruang tamu. Dia duduk didepanku sambil menawarkan air minum padaku namun aku menolaknya karena aku tidak merasakan dahaga sama sekali. Mungkin karena duduk disampingnya dahagaku seketika hilang. Haha…

Kuhabiskan waktu dengannya untuk mengobrol, bercanda, bercerita tentang masa lalunya sampai-sampai tak terasa tiga jam kuhabiskan waktu dengannya. Tapi aku senang karena aku bisa sedekat ini dengannya.

Berangkatlah aku ke Cianjur, karena teman-temannya sudah datang dan menunggu kami di depan Riung Bandung. Aku pergi dengan ke enam orang temannya, tapi yang kuceritakan disini antara Dia dan Aku karena ini memang kisahku dan aku yang buat ceritanya. Haha…

Sebelum kami sampai di Cianjur kami berhenti dahulu di daerah Ciwidey tepatnya sekitar kawah putih. Aku turun dari motor, kutarik  napas perlahan-lahan, kurasakan angin membelai tubuhku ,dan memang udaranya terasa sejuk sekali. Kami berhenti untuk mengistirahatkan mata setelah beberapa jam mengendarai motor.

Disana adalah awal aku mengabadikan diriku dengannya lewat kamera. Tak dapat ku pungkiri hatiku terasa semakin senang ketika aku berdekatan dengannya dan berpose layaknya pasangan yang dimabuk asmara. Sungguh aku benar-benar bahagia.

Setelah puas berpose kami harus melanjutkan perjalanan karena kami harus berpacu dengan waktu. Dalam perjalanan kami lagi-lagi harus terhenti, karena sebuah pemandangan yang memaksa kami harus turun dan berpose dengan sang alam. Terasa semakin dekat saja aku dengannya karena aku mengajaknya untuk berpose lagi.

Kami lanjutkan lagi perjalanan, kali ini bukan pemandangan yang indah yang kami lewati tapi kami harus melewati jalan yang rusak, terjal, dan curam. Sampai-sampai aku harus menyuruhnya turun dari motor karena motorku tidak kuat untuk berjalan saat jalannya menanjak.

Sampailah aku di Cianjur, di rumah seorang kakek temanku (kakek Adli). Disana kami disuguhi biji nangka goreng dan kerupuk sambil diiringi obrolan sang kakek. Namun lagi-lagi aku tak kuat menahan keinginanku untuk berpose dengannya, aku ajak saja dia dan menyuruhnya untuk berfoto lagi denganku.

Lalu sorenya kami pergi kebelakang halaman dan disana ada sebuah pemandangan yang menarik. Aku duduk berdua dengannya dan melihat hamparan sawah yang begitu luas dan hijau yang terhampar dengan indah. Aku bercanda dengannya sambil melihat wajahnya yang cantik yang disinari oleh matahari terbenam. Seketika aku berdoa dalam hati “Ya Allah, jangan kau cabut kebahagiaan ini, aku benar-benar nyaman berada didekatnya.”

Malam pun mulai datang, kami bergegas untuk masuk rumah dan masing-masing sibuk dengan peralatan mandinya. Setelah semuanya selesai kami bersiap-siap untuk makan. Saat itu suasana terasa sangat menyenangkan, sangat hangat dan sangat harmonis, karena kami makan dengan penuh kebersamaan duduk di atas tikar ditemani gemercik suara air yang mengalir dikeheningan malam.

Setelah makan, aku dan dia mengobrol di halaman depan rumah sambil duduk-duduk. Kami bercanda-canda kembali, aku ceritakan semua yang ada di dalam hati. Aku benar-benar nyaman berada didekatnya. Keberadaannya begitu hangat seakan-akan memeluk tubuhku yang sedang kedinginan di gelapnya malam.

Sekitar pukul setengah sepuluh malam kami lanjutkan dengan bermain kartu di rumah yang tidak jauh dari rumah kakek Adli. Sambil bermain kartu, sesekali kupandangi wajahnya yang cantik, alisnya yang tebal, hidungnya yang mungil, bibirnya yang tipis, ditambah lagi senyumannya yang indah dengan tulang pipi yang agak menonjol, membuatku jatuh hati padanya. Sungguh dia benar-benar cantik untuku.

Sekitar pukul sebelas malam para wanita pergi ke rumah kakek Adli untuk tidur, sedangkan para lelaki melanjutkan permainan kartunya hingga pukul satu malam. Bermain kartu membuat mataku lelah tak tertahankan, kusudahi saja permainan kartu lalu kuambil selimut dan bersiap-siap untuk tidur.

Paginya sekitar pukul lima aku bangun dan langsung menuju rumah kakek Adli, tiba-tiba Dia sedang duduk manis, tidak memakai kerudung dan belum mandi. Tetapi wajahnya tidak begitu terlihat oleh mataku karena ruangan tersebut masih dalam keadaan gelap karena matahari belum terbit dengan sempurna. Bergegas saja aku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Setelah aku selesai mengerjakan sholat, Dia dan ke dua teman wanitanya pergi untuk mencari gorengan keluar. Ku tunggu Dia di depan halaman rumah sambil duduk mengobrol dengan salah seorang temanku.

Tiba-tiba saja dia datang bersama ke dua temannya. Kulihat dia dari kejauhan dan ternyata dia cantik sekali walaupun dia belum mandi. Semakin senang saja perasaanku karena bisa melihatnya dalam keadaan belum mandi. Haha…

Bergegas saja aku pergi ke belakang rumah untuk melihat matahari terbit dari pegunungan karena memang pemandangan di belakang rumah sangat indah. Aku hubungi dia lewat pesan singkat untuk mengajaknya melihat matahari terbit. Beberapa saat kemudian dia datang dengan mengenakan baju hangat warna abu yang kupinjamkan semalam, memakai celana tidur warna merah muda sambil membawa segalas teh hangat. Perlahan dia mendekatiku dan mulai duduk disampingku. Aku seakan-akan seperti Abah dan Ambu karena aku sedang mengenakan sarung dan dia mengenakan celana tidur.

Bercanda-canda, menikmati sejuknya udara pagi, melihat senyumannya yang indah sambil disinari matahari pagi yang hangat, rasanya benar-benar indah. Kenyamananku berada didekatnya semakin bertambah. Perasaan suka kini berubah menjadi perasaan cinta. Ternyata dia benar-benar cantik walaupun belum mandi. Kecantikannya begitu alami, kecantikannya memancar dari dalam. “Ya Allah, aku sungguh-sungguh mencintainya.”

Tiba-tiba saja temanku dan pacarnya datang menghampiri kami dan duduk bersama-sama menikmati matahari yang perlahan mulai menampakan keagungannya. Begitu hangat terasa di tubuhku ditambah kehadiran orang yang paling kucintai menjadikan semuanya begitu lengkap.

Sekitar pukul 10 kami beserta teman-temannya pergi ke tempat wisata air terjun yaitu Curug Citambul yang tak jauh dari rumah kakek Adli. Baju hangat yang kupinjamkan semalam masih dipakainya, dia memakai kerudung warna hitam, celana jeans dan sepatu warna biru muda. Senang sekali rasanya melihatnya memakai kerudung warna hitam begitu anggun dan manis.

Sesampainya disana kami pergi ke sebuah tempat yang tinggi yang terdapat sebuah pohon besar. Kami pergi bersama dengan kedua orang temanku. Perlu perjuangan untuk mencapai tempat itu karena jalan yang curam ditambah lagi semak belukar yang menghalangi sehingga kami harus perlahan-perlahan dalam melangkah.

Sambil berjalan kupegang tangannya dengan erat karena aku khawatir dia akan terjatuh dan tersungkur. Begitu khawatirnya aku padanya, setiap aku berjalan ke depan aku selalu berhenti sejenak untuk melihat kebelakang, apakah dia baik-baik saja? Apakah dia terjatuh? Apakah dia tertinggal? Disini aku tak bisa menyembunyikan perasaanku lagi, aku mengakui bahwa aku benar-benar menyayanginya.

Setibanya di atas puncak kami melihat sebuah pemandangan yang sangat indah. Air terjun yang tadi kulihat dari bawah sekarang terlihat begitu jelas di depan mata, seakan-akan aku berada di dekat air terjun tersebut. Di atas puncak, kami tidak hanya bisa melihat air terjun tetapi kami bisa melihat sawah-sawah yang hijau terhampar dengan indah. Sekali lagi kutarik napas perlahan-lahan. “Subhanallah sungguh indah pemandangan ini.” teriaku dalam hati.

Momen tersebut tak akan pernah terlewatkan dengan sia-sia, kuajak saja dia untuk berpose bersamaku. Dengan anggunnya dia berpose tersenyum manis di dekatku. Tak tahu lagi apa yang harus kuungkapkan saat bersamanya yang pasti hatiku merasa sangat bahagia saat berada di dekatnya.

Turunlah kami dari puncak itu setelah berjam-jam berpose bersamanya. Kemudian kami lanjutkan untuk pergi ke tempat yang lain yang tidak jauh dari air terjun tersebut. Kali ini berbeda kami benar-benar berada kira-kira lima belas meter dari air terjun tersebut sehingga pakaian kami basah karena cipratan air terjun yang mengenai kami. Sama seperti tadi kami tidak akan melewatkan setiap momen dengan berpose.

Kami memutuskan pulang ke tempat kakek Adli karena kami sudah merasa lelah menghabiskan waktu dengan berpose di Air Terjun Citambul, ditambah lagi sandal yang kukenakan pada saat berpose disana terputus.

Setibanya di rumah kakek Adli, aku langsung mandi dilanjutkan dengan solat dzuhur. Sebelum kami bersiap-siap untuk pulang tiba-tiba hujan turun sangat lebat, terpaksa kami harus menunda kepulangan kami. Sambil menunggu hujan reda, aku dekati saja Dia yang sedang duduk sendirian, aku duduk disampingnya dan kuajak dia mengobrol sambil kuperlihatkan foto-foto kami tadi di Curug Citambul.

Hujan pun mulai reda, bergegas saja kami membereskan semua barang dan bersiap-siap untuk pulang. Tak lupa juga kami pamitan kepada kakek Adli beserta seluruh keluarganya yang tinggal di rumah tersebut.

Ceritaku belum berakhir sampai disini, karena aku masih mempunyai pesan yang harus kutuangkan dalam cerita ini. Kulanjutkan saja ceritanya. Dalam perjalanan pulang kami lagi-lagi harus berhadapan dengan jalan yang rusak, curam dan terjal. Tapi itu tidak menjadi halangan bagi kami, karena sebelumnya kami pernah melewati itu dan kami bisa melewatinya.

Dalam perjalanan pulang lagi-lagi kami harus berhenti sejenak. Pemandangan alam yang begitu indah mengajak kami untuk berpose dan menikmati alam yang begitu mempesona. Kami habiskan beberapa saat untuk berfoto bersamanya (si cantik). Setelah itu kami kembali  melanjutkan perjalanan pulang. Karena suhu yang sangat dingin kami harus berhenti di sekitar Kawah Putih untuk mengistirahatkan tubuh sekaligus melaksanakan shalat ashar karena telah memasuki waktu ashar.

Setelah semuanya selesai, kami lanjutkan kembali perjalanan pulang hingga aku dan dia tiba di Bandung tepatnya di daerah Cibaduyut sekitar pukul enam lebih lima belas menit. Tiba-tiba saja bagian belakang motorku oleng. Aku menepi ke sebelah kiri, kulihat keadaan ban motorku dan ternyata ban belakangnya bocor.

“Pantesan motornya tadi oleng, taunya bannya bocor.” sahutku sambil melihat ke arahnya.

“Iaah, gimana atu a?” sahutnya dengan nada sedikit khawatir.

“Yaudah sekarang mah sms temen amel, kalo ban motor a fadhlan bocor!” sahutku dengan tenang.

“Iah a ini lagi.” Jawabnya sambil terburu-buru mengetik sms.

Selagi menunggu jawaban dari temannya kami pergi mencari tukang tambal ban, sambil ku tuntun motor yang tadi bocor. Dengan perasaan malu aku berbicara padanya.

“Amel maaf yah bannya bocor…”

“Ga apa-apa ko a, nyantei aja. Amel mah malah kasian ke Fadhlan soalnya cape harus jalan sambil nuntun motor” Sahutnya dengan tersenyum manis.

“Ih, fadhlan mah ga apa-apa amel.” Sahutku sambil mengkhawatirkannya.

Aku tahu, pasti orang tuanya sangat mengkhawatirkannya, maka kusuruh dia untuk menghubungi orang tuanya lewat pesan singkat di handphonenya. Momen ini adalah momen yang tak terlupakan, karena disini aku merasa bahwa aku benar-benar menyayanginya. Bayangkan saja pada saat motorku bocor dengan tenangnya dia mengkhawatirkan aku. Padahal aku dengannya berada jauh dari rumah masing-masing, tetapi dia memasang wajah tersenyum membuatku menjadi tenang berada didekatnya.

Tidak hanya kegembiraan yang kudapat bersamanya tetapi kesusahannya pun kudapat dengannya. Dengan adanya kejadian ini, membuatku bisa lebih mengenal jauh dengannya. Aku bisa mengetahui bagaimana dia menyikapi masalah. Aku bisa mengetahui bahwa dia adalah perempuan yang baik. Aku bisa mengetahui bahwa dia perempuan yang sabar. Ingin rasanya aku berteriak kepada semua orang bahwa aku menyayangimu amel.

Akhirnya kami menemukan sebuah tukang tambal ban, bergegas saja kami kesana dan langsung menaikan motor ke atas trotoar agar cepat-cepat diperbaiki. Kami duduk disamping motor yang sedang diperbaiki, kulihat bibirnya mengering. Tanpa berpikir panjang kubelikan dia segelas air putih dalam kemasan.

Setelah itu aku duduk disampingnya sambil melihat foto-foto yang tadi kami ambil di sepanjang perjalanan. Sesekali aku memegang kepalanya karena aku tidak kuat menahan perasaan sayang kepadanya. Aku bilang padanya bahwa aku akan menjadikan foto yang tadi kami ambil agar dijadikan Display Picture di BBM (BlackBerry Messenger) sehingga orang-orang akan tahu bahwa aku bersamanya. Tapi dengan manisnya dia hanya tersenyum, membuatku semakin senang dengannya.

Akhirnya selesei juga motorku diperbaiki, kami langsung bergegas menyusul teman-teman yang sedang menunggu di sebuah warung makan. Diperjalanan pulang, teman kami satu persatu berpamitan pada kami karena arah jalan yang kami ambil berbeda dan ada beberapa teman kami yang mempunyai kepentingan mendadak, mengharuskannya untuk cepat-cepat pulang. Sehingga yang tersisa hanya aku, si cantik, dan kedua orang teman kami. Namun kami terpisah dengan kedua orang teman kami, tapi tak apa karena kami mempunyai tujuan pulang yang sama yaitu menuju Riung Bandung.

Sampailah kami di Riung Bandung, kami berhenti dahulu untuk membeli beberapa tusuk sate yang tidak jauh dari rumahnya, dengan harapan sampai di rumah kami akan langsung makan sate tersebut karena perut kami begitu sangat lapar. Hahaha…

Tibalah aku di rumahnya. Beberapa saat kemudian kedua orang temanku datang dan langsung bergegas untuk memakan sate yang tadi kami beli.

Tak lupa aku mengucap syukur kepada Allah SWT, karena liburanku kali ini begitu banyak kebahagiaan yang kurasakan. Terima kasih Ya Allah aku dipertemukan dengan orang seperti dia. Terima kasih Ya Allah aku sekarang bisa mengenalnya dan dekat dengannya. Dari perasaan suka hingga cinta kini berubah menjadi perasaan sayang.

Aku sadar kecantikan fisik akan luntur oleh waktu namun kecantikan hati tidak akan luntur oleh waktu tetapi hanya akan terkenang abadi seperti tulisan ini. Dan kamu memiliki itu. Hanya beberapa detik aku bisa mencintaimu, mungkin ini adalah anugerah yang Allah berikan kepadaku. Aku tak akan menyia-nyiakan pemberian Allah ini. Aku akan berjuang untuk hidup bersamamu. Aku mau kita melewati hidup yang sulit ini dengan susah dan senang.

Sekarang kamulah yang menjadi kepentingan dan perhatian tertinggiku. Aku tak bisa berpura-pura lagi, aku tak bisa menutupi perasaanku, aku harus jujur kalau aku benar-benar tulus menyayangimu. Fadhlan sayang Amalia. Abah sayang Ambu.

3 Responses to “Belum Mandi”

  1. nanang sulistiawan mengatakan:

    wes..salam wat amel ya klo ketemu lagi..heheh🙂
    jadi pengen pose belum mandi juga..:)

  2. dede kurnia mengatakan:

    aku mani gak di ajakan a,, sedih visan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: