SELAMAT JALAN AYAH

Sudah beberapa minggu ini ayahku  tidak kunjung sembuh dari sakitnya,  melihatnya  yang terbaring lemah dari tempat tidurnya membuat perasaanku sedih. Aku tidak tega melihat dia yang sedang kesakitan.

Hari-hari pun terus berlalu ayahku pun tak kunjung sembuh, malah sakit ayahku semakin bertambah dengan mengeluarkan makanan yang tadi dimakannya . Dan hal itu sudah terjadi beberapa kali. Aku tidak tega melihatnya sampai-sampai aku menangis karena kasian melihatnya.

Dibawalah ayah ke rumah sakit terdekat dari rumah, untungnya tanteku beserta suaminya ada pada saat itu sehingga ayahku bisa ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya. Ku tuntun ia kedalam mobil tak kuat mataku menahan air mata, aku hanya bisa berdoa pada Allah SWT. Ayahku berangkat ke rumah sakit pada malam hari.

Keesokan harinya aku belum sempat menemaninya di rumah sakit karena sakit yang mengharuskan tubuhku untuk beristirahat sehingga aku harus berdiam diri di rumah.

Dua hari pun berlalu sampai tubuhku kembali segar maka kuputuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk pergi menengoknya bersama kedua saudara kandungku. Sesampainya disana aku melihat sang ayah sudah terbaring lemah, dia sudah tidak bisa mengeluarkan air seni dari alat kelaminnya sehingga mengakibatkan perutnya bagian bawah dekat kandung kemih harus dilubangi untuk di masuki selang agar air seninya bisa keluar. Tak kuasa aku menahan sedih, siapa yang tahan melihat seorang ayah yang dicintainya tebaring lemah dengan keadaan seperti itu pasti akan menangis.

Pada saat kedua saudara kandungku sedang mengantar ibuku untuk membayar tagihan obat, aku duduk disamping ayah dan tiba-tiba ayahku memanggilku dengan pelan.

“Dan…!!”

“Apa pa?” sahutku dengan suara sedih karena aku habis menangis.

“Jika bapa meninggal, Fadhlan yang soleh yaa. Anak yang soleh adalah aset bagi orang tua.”

“Iah pa, maafin aku ya Pa.” Sahutku sambil menangis.

“Iah sama-sama bapa juga Dan.” Sahutnya sambil tersenyum.

Seketika saja aku menangis mengalirkan banyak air mata, karena mendengar ayahku yang berkata seperti itu seakan-akan ia akan meninggalkan dunia ini. Kemudian aku pulang karena waktu sudah terlalu malam. Ayahku disana ditemani ibuku.

Hari jumatnya setelah selesai melaksanakan solat jumat aku pergi ke rumah sakit untuk menemani Ayahku bersama ibuku yang masih di rumah sakit. Aku menemaninya sampai larut malam. Selama disana aku banyak mellihat orang sakit yang terbaring lemah di atas kasur putih. Sesaat aku merenung bahwa kesehatan adalah anugerah dari Allah SWT yang paling berharga. Tanpa sehat kita tidak akan bisa mencapai cita-cita besar, tanpa sehat kita tidak akan bisa mencari nafkah, tanpa sehat kita tidak akan bisa menikmati keindahan alam yang telah diberikan Allah. Dengan segera aku mengucapkan Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah) untuk mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan.

Waktupun sudah mulai malam aku pun bersegera untuk pulang, karena esok sabtu aku akan menemani ayah mulai pagi hingga malam.

Keesokan harinya tanggal 23 Maret 2013 sekitar pukul empat ibuku menelepon lewat handphone ku, tiba-tiba aku bangun dan segera mengangkat telepon dari ibuku.

“Fadhlan cepet kerumah sakit ya sama Aa (sebutan abang untuk orang Sunda) sama Luzman (adik).” Dengan suara yang parau ibuku berbicara seperti itu.

“Iah Mah, nanti sudah solat subuh aku kesana.” Sahutku dengan keheranan.

“Cepet ya fad.” Jawab ibuku.

Kemudian aku segera membangunkan kedua saudaraku yang masih dalam keadaan tertidur.  Sesudah solat subuh bersegera aku mempersiapkan barang-barang untuk bekal di rumah sakit nanti. Namun ibuku menelepon lagi untuk menyuruh kami untuk cepat ke rumah sakit dan tidak perlu membawa apapun. Ada apa ini sahutku dalam hati bertanya, mudah-mudahan yang kutakutkan selama ini tidak terjadi. Dengan segera kami berangkat kesana.

Sesampainya disana kami langsung bergegas dan berlari menuju ruangan yang ditempati oleh ayahku. Pada saat ku melihatnya ternyata ayahku sudah meninggal, dibalut dengan kain kafan berwarna putih. Sontak saja aku menangis bersama kedua saudaraku. Ternyata yang selama ini kutakutkan akhirnya datang, kematian datang menghampiri ayahku, aku menangis sejadi jadinya, tak kuasa menahan kesedihan ini seraya sambil berdoa untuk arwah ayahku.

Tak kusangka kematian datang secepat ini pada ayahku, aku tak sempat membuktikan kepada ayah dengan memperlihatkan kelulusan sarjana namun ayahku sudah berpulang. Beginilah takdir Allah, kematian datang tanpa diduga menghampiri siapa saja yang dikehendakinya apabila telah waktunya.

Terima Kasih Ayah jasamu tak akan pernah kulupakan, semua pelajaran berharga akan selalu kusimpan, hal-hal konyol hingga berharga akan selalu kukenang. Aku akan selalu mendoakanmu dan akan berusaha untuk mewujudkan keinginan ayah untuk menjadi anak yang soleh dunia maupun akhirat.

Semoga salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan Islam dengan kelembutannya. Amiiin

Ya Allah, ampunilah ayahku, berilah ia rahmat dan sejahtera dan maafkanlah ia. Amiiin

Selamat jalan Ayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: