KKN 228

Ini adalah sepenggal kisah ku selama aku mengikuti KKN, memang sulit ku ceritakan semuanya disini, namun aku berharap cerita ini, kisah ini, dapat menjadi kenangan dan sejarah yang tak terlupakan bagiku dan kawan-kawan.

Kelompok KKM ini beranggotakan sembilan orang, dengan komposisi lima orang wanita dan 4 orang pria. Leni, Dini, Puji, Amalia,dan Dewi, kesemuanya adalah anggota wanita. Arief, Iman, Riyan, dan Fadhlan kebetulan saya sendiri, itu semua adalah anggota pria.

20140326_130157

Pertemuan dengan anggota kelompok pertama kali di lakukakan di taman kampus. Ketika itu yang hadir hanya enam orang, yaitu, Puji, Dewi, Amalia, Dini, dan Fadhlan serta Arief, namun Leni, Iman dan Riyan belum hadir. Disana aku membahas tentang pemilihan anggota kelompok dan akhirnya atas kesepakatan bersama terpilihlah Puji sebagai Ketua Kelompok. Aku melihat masing-masing anggota berbicara, hanya satu yang terlihat tidak pernah berbicara, ia hanya berbicara ketika perkenalan saja. Namanya Dewi, ia berasal dari jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam). Namun aku pikir mungkin ia sedikit pendiam atau mungkin belum saling mengenal jadi agak sedikit malu-malu.
Pertemuan kedua dilakukan di Gazebo kampus, Gazebo adalah tempat kumpul bagi para mahasiswa yang sedang santai, disana dilengkapi dengan Wifi sehingga bisa asik kongkow dengan teman-teman sambil internetan sepuasnya. Pertemuan kali ini dihadiri oleh semua anggota kelompok, hanya satu yang tidak hadir yaitu Dewi, karena ia sedang sakit.

Hari pemberangkatan pun tiba, masing-masing anggota sudah mempersiapkan bekal masing-masing. Seluruh anggota pergi dengan menggunakan bus dari pihak Universitas hanya aku dan Riyan saja yang pergi dengan menggunakan sepeda motor. Jika yang naik bus pergi pada pukul 02.00 WIB maka aku pergi pada pukul 06.00 WIB.

Sampailah aku di Sumedang tepatnya di Desa Cikoneng Kulon. Udara sejuk khas pedasaan sungguh terasa hingga kedalam hati, matahari yang hangat seakan menggelitik tubuh yang lelah. Sungguh indah memang.

Aku dan teman-teman (kelompok KKN 228) ditugaskan di desa Cikoneng Kulon, Dusun Nagrak. Jadi satu desa memuat tiga dusun, yaitu desanya Cikong Kulon, dusunnya yaitu Dusun Nagrak, Dusun Cinungku, dan Dusun Cimareme.

Ada banyak kegiatan yang kami lakukan disana, dari acara yang bersifat menghibur hingga acara yang bersifat mendidik. Ada lomba cerdas cermat, lomba catur, lomba volley, lomba futsal, lomba shalawat, lomba tahfidz, lomba MTQ, penyuluhan hukum, pembuatan selai tempe dan nata alloy, mengisi ceramah di pengajian ibu-ibu, penyuluhan anak-anak dan masih banyak lagi.

Selama sebulan kami terus bersama sehingga muncul ikatan kekeluargaan. Sifat dan karakter asli mulai muncul dari masing-masing anggota. Disitulah proses aku memahami lebih dalam perasaan teman-temanku. Yang tadinya pendiam kini menjadi cerewet, yang tadinya rajin kini menjadi malas, yang tadinya berisik menjadi diam, yang tadinya keterlaluan berubah menjadi sewajarnya, terlepas dari itu semua itu adalah sebuah proses pengenalan yang akan menghantarkan kita menjadi keluarga di kelompok KKN 228 ini.

Beberapa hari kami terus berjuang untuk menyelesaikan tugas bersama dan tugas masing-masing. Lelah, bahagia, kesulitan, semuanya kami lewati bersama. Sungguh aku menemukan keluarga baru disini. Mungkin ini lah keluarga ku sebelum aku mempunyai keluarga dengan Amalia Fathonah Nurhidayah, senangnya aku mempunyai banyak keluarga, hha…..

Oia ada momen dimana calon istriku (Amalia Fathonah Nurhidayah) datang untuk mengunjungiku. Ia jauh-jauh datang dari Bandung ke Sumedang hanya untuk bertemu denganku. Ia datang karena tidak mampu lagi menahan rasa rindu untuk bertemu denganku. Memang pertemuan yang sangat indah, karena kami sudah saling menahan rindu, sehingga ketika bertemu sungguh sangat mesra.

Ketua kelompok ku yang bernama Puji ia terlibat cinta lokasi dengan pemuda dusun nagrak. Pemuda dusun Nagrak tersebut berinisial A. Pertama-tama ia memang malu mengakui kalau dia memang suka dengan si A, tapi lama-lama benih cinta mulai tumbuh dan perasaan cinta tak bisa dibendung lagi dan akhirnya pacaran juga.

Ada temanku yang bernama Ratna, nah ini adalah temanku yang paling pendiam, ia sama sekali jarang bicara. Namun tak disangka dialah yang paling cerewet. Ia sempat menyuruhku, luar biasa kan? Yang tadinya pendiam dan tidak berani berbuat apa-apa , kini berani menyuruhku.

Temanku kali ini bernama Iman, ia mempunyai pasangan bernama Ais kalau dibalikan namanya menjadi Sia, hahah….. Temanku ini sangat bisa membaca Al Quran dengan baik, ia memang keluaran pesantren, tapi kelakuannya sama jeprutnya denganku.

Adalah Riyan, ia yang pergi bersamaku ke Sumedang dengan menggunakan motor. Ia juga terlibat cinta lokasi dengan salah satu anggota kelompok KKN 226, perempuan tersebut berinisial N. Riyan ini akan sensitif jika dirinya sudah berurusan dengan masalah perut.

Arief, ia temanku yang paling pendiam, namun paling giat bekerja. Tidak banyak berbicara namun banyak bekerja itulah sifatnya. Mungkin “Talk less do more” adalah gelar yang cocok kuberikan padanya.

Kemudian ada Leni, sifatnya sama dengan Dewi yang cerewet, karang di bibirnya menjadi kekuatan ia untuk melakukan segalanya. Sifatnya yang cerewet terkadang membuat kesal, namun juga banyak membantu. Ia bercita-cita menjadi Profesor.

Dini, ini adalah temanku yang paling gila terhadap produk Tuppeware. Cita-citanya adalah “jika sudah menikah ingin memiliki banyak tupperware”, sungguh cita-cita yang sangat luar biasa. Cita-citanya membuatku juga ingin membeli tupperware. Mungkin aku berpesan pada suaminya kelak, “tolong jangan bawa Dini ke Mall dan hindarkan ia dari para Sales”.

Yang ini bernama Amalia Purnama, tapi sering di panggil Apew. Sebentar lagi temanku ini akan menikah, mungkin menurut ku ia perempuan paling dewasa dari kelompok ku. Ia sering disebut mamah oleh teman-temanku karena kedewasaannya. Aku banyak belajar hal darinya.

Sampai akhirnya hari perpisahan pun datang, setelah acara Lokakarya II selesai dilaksanakan. Kami langsung menuju posko 288, disitulah tempat kami berkumpul. Sebelum pulang kami saling meminta maaf satu sama lain. Air mata haru keluar bersamaan dengan perasaan sedih. Sungguh hari itu menjadi hari yang penuh dengan haru.

Terima Kasih Puji, Leni, Dewi, Apew, Dini, Arief, Iman, dan Riyan. Kalian telah ku anggap sebagai keluarga. Tidak ada gading yang tak retak, begitupun juga dengan manusia, tidak ada manusia yang sempurna, maafkan lah segala semua kesalahan Fadhlan. Semua memang pernah melakukan kesalahan namun terlepas dari itu semua kalian sudah ku anggap sebagai keluarga.

Sampai berjumpa lagi, ingatlah selalu Fadhlan Dwiansyah.

 

 

One Response to KKN 228

  1. Herlina Leni mengatakan:

    tulisan yang sangat mengharukan..😀
    saya pribadi juga ingin mengucapkan terimakasih karena kawan-kawan telah membantu jadi sumber inspirasi saya menjadi lebih baik lagi..
    1. Fadlan : saya ucapkan terimakasih atas ilmunya, yang mengajarkan bahwa berkenalan dengan cinta itu tidak perlu banyak berargumen dengan logika, selama itu membuat hati bahagia, beranilah untuk mengenal cinta, dan mulailah praktek tanpa banyak teori.
    2. iman : terimakasih banyak, karena suara indahnya membuat saya berambisi untuk mampu membaca al-quran dengan baik, meskipun memiliki kekekurangan namun setidaknya perbaikilah ilmu tajwidnya.
    3. Arief : terimakasih banyak karena telah memberikan contoh yang baik bahwa “talk less do more memberikan khasiat yang lebih baik dalam kinerja”, serta bercandalah dengan tulus dalam hati tanpa banyak candaan palsu yang membuat otak harus berurusan dengan teori dan konsep.
    4. puji : terimakasih banyak, atas contoh kepemimpinannya yang baik sehingga saya lebih memahami arti leadership yang baik, bagaimana kinerja seorang pemimpin ketika menghadapi situasi apapun, dan bagaimana melengkapi sesuatu yang tidak lengkap dalam tim work.
    5. Apew : terimaksih banyak atas ilmunya bahwa “hidup berumah tangga itu tidak perlu banyak di khawatirkan, berbahagialah dan hadapilah “, karena jujur selama ini saya terlalu takut dan terlalu cemas untuk menyentuh ranah rumah tangga, meskipun saya menyadari itulah hakikat manusia yang menginjak dewasa awal, bahkan sebelumnya saya bertekad mempelajari banyak teori sebelum menyentuh ranah itu namun setelah bertemu dan banyak mendengar darimu, saya mulai banyak belajar untuk menghadapi ketakutan yang tidak beralasan.
    6. Nde : terimakasih banyak, berkat dirimu saya belajar untuk mengarahkan kemampuan sendiri dengan maksimal atau “kerjakan apa yang dapat dikerjakan sendiri”, bagaimana mengatur prioritas kerja dan cinta, serta tepatilah setiap janji dan kerjakanlah janji itu.
    7. Ratna : terimakasih karena dirimu telah mengajarkan bahwa informasi itu banyak beredar, jangan pernah mau tertinggal informasi, perbanyaklah relasi, dan pintar-pintarlah memposisikan sendiri dalam situasi yang berbeda-beda.
    8. riyan : terimakasih banyak karena berkat dirimu, saya belajar untuk berani menolak pekerjaan yang tidak sanggup untuk di pikul. selama ini saya tidak pernah memberikan hak yang dimiliki tubuh ini, bermacam-macam kerjaan selalu saya terima dan kerjakan meskipun badan ini terasa berat memikul pekerjaan ini, dan saya akan mencoba mulai memilih kerjaan yang sesuai dengan kapasitas kemampuan saya tanpa takut untuk menolak ketika itu merugikan sendiri.

    thanks guy, selama ini saya terlalu banyak menggunakan teori dan pemahaman pribadi yang salah, sehingga saya menyadari bahwa hal ini menghalangi saya untuk mencoba sesuatu yang baru, seakan-akan saya memiliki tembok menjulang yang saya bangun sendiri, kini tembok (kehawatiran yang tidak beralasan) itu akan saya coba untuk sedikit demi sedikit saya hancurkan. saya akan terus berusaha menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, salam hormat saya untuk kalian semua dari calon Prof. Leni Herlina, S,Psi, Psy.D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: